Kamis, 12 Januari 2012

Terlanjur Cinta Yang Memilih

By:  Lienda Mitarockerz V-nity
“Mit,cepetan loe pegang tangan gue! Sebelum semuanya terlambat,” Ikmal terus membujuk Mita.
“Gue takut Mal,”rengek Mita.
“Please Mit,kali ini percaya sama gue,” dengan tegas Ikmal meyakinkan Mita. Mita akhirnya pelan-pelan menuruti perkataan Ikmal,namun keraguan masih terbesit dibenaknya. Andai saja kalau orang itu Rio,mungkin Mita tidak akan pernah meragukannya. Mita tipikal orang yang tidak mudah percaya dengan orang lain tak peduli sedekat apa orang itu dengannya. Karna belajar dari pengalaman sang Mama yang membuat Mita enggan membuka diri dan terbiasa hidup mandiri karna ia tidak mau di pandang sebelah mata. Namun jauh di lubuk hatinya,Mita tidak jauh berbeda dengan kebanyakan perempuan karna sejatinya jiwa Mita rapuh semenjak Mamanya meninggal. Tapi Rio selalu ada untuk Mita.
 
“Loe ga papa kan Mit?” hati Ikmal lega ketika Mita berhasil ia selamatkan. Hampir saja Mita terpeleset ke jurang namun ada ranting pohon untuk menahan tubuhnya dan untung saja Ikmal dengan cepat datang untuk menolongnya.
 
“Makasih Mal,” Mita spontan memeluk Ikmal. Dengan rasa heran,Ikmal membalas pelukan Mita. Karna tak seperti biasanya Mita sembarangan memeluk orang jika orang itu benar-benar berarti dalam hidupnya.
-Mungkin ini cuma tanda ucapan makasih aja,gue ga boleh berasumsi sesuatu hal yang ga pasti- hati Ikmal mencoba menepis apa yang sedang tersirat di pikirannya saat ini.
 
“Iya Mit,gue engga mau kehilangan loe untuk kedua kalinya,”Ikmal tanpa sadar kelepasan.
“Kedua kalinya?” Mita merasa aneh dengan ucapan Ikmal barusan.
“Udah lupain aja. Lain kali kalo jalan hati-hati ya,udah mau sore nih kita pulang yuk. Rio pasti udah khawatir sama loe,” ajak Ikmal yang disertai anggukan Mita.
 
            “Mita......kamu kenapa? baju kamu kotor begini,kamu ga apa-apa kan?” tanya Rio bertubi-tubi dengan nada khawatir.
“Tadi hampir aja Mita jatuh ke jurang,” Ikmal angkat bicara.
“Apa yang dibilang Ikmal bener Mit?”Rio mencari kepastian.
“Iya sayang,tadi hampir aja aku kepleset jatuh ke jurang tapi untung ada Ikmal yang menolong aku,” jelas Mita sedikit sungkan karna ia tahu sifat Rio yang sensitif.
“Lain kali kamu ga boleh teledor ya,apalagi sampai menyangkut keselamatan nyawa kamu,” pinta Rio mendekap Mita dengan hangat.
 
                  Mita duduk disebuah bangku didepan Vila sambil memainkan gitar kesayangannya.
 
“Belum tidur Mit?” tanya Ikmal tiba-tiba datang dan duduk disebelahnya.
“Loe liatnya gue masih melek apa udah merem,” jawab Mita dengan cueknya.
“Gue seneng liat loe yang dulu,jauh berbeda sebelum loe tunangan sama Rio,” Ikmal menatap Mita penuh arti.
“Perasaan loe aja kali,gue masih sama seperti Mita yang dulu kok,” Mita mencoba menepis tatapan Ikmal.
“Loe beda Mit,gue bisa merasakan perubahan itu. Mulai dari sikap loe,cara berfikir loe dan itu semua karna Rio,” desak Ikmal.
“Kalo iya emang kenapa? apa salahnya gue berubah demi orang yang gue cintai,” balas Mita tersenyum hambar.
“Gue engga suka,gue lebih suka liat loe yang dulu. Mita yang apa adanya,”Ikmal beranjak pergi dari hadapan Mita.
 
“Ternyata cuma Ikmal yang bisa ngerti gue,dia lebih tau tentang gue daripada Rio. Rio bahkan terlalu sibuk dengan sikap protektifnya yang ga penting itu. Ikmal juga selalu ada disaat gue butuh bantuan,dia berbeda dengan Rio,” Mita merenung ditengah sunyinya malam.
 
“Apa dulu gue udah salah ambil keputusan?” sesal Mita.
“Tapi ga mungkin gue menyesali apa yang udah menjadi jalan hidup gue,toh gue sama Rio selama ini lancar-lancar aja. Apa emang pikiran gue aja yang kejauhan,tapi emang ga bisa dipungkiri kalau gue lebih nyaman berada di dekat Ikmal daripada Rio,” renung Mita untuk kesekian kalinya.
 
“Eh, Ikmal !” reflek Mita ketika seseorang tiba-tiba menepuk pundak Mita dan membuyarkan semua lamunannya.
“Rio ?! aku kira.......,”lanjut Mita menggaruk kepalanya.
“Oh aku ganggu lamunan kamu ya Mit? ya udah aku pergi deh,”Rio tersenyum maklum.
“Tunggu Yo,kamu temenin aku disini ya,” pinta Mita meraih tangan Rio. Rio pun duduk di samping Mita.
“Mita......perempuan ga pantes duduk seperti itu,”Rio mulai berkomentar melihat posisi duduk Mita.
“Tapi enakan kalo gini Yo,” rengek Mita dengan manja.
 
“Mita,meskipun gaya kamu masquline seperti ini tapi inget kamu ini perempuan harus punya sopan santun,” dengan sabarnya Rio menasehati Mita.
"Iya deh,"ucap Mita pasrah kemudian menurunkan satu kakinya.
 
-Heuh,capek juga kalo punya calon suami protektif,bawel,banyak ngatur pula. Tapi anehnya,kenapa gue cuma nurut aja ya. Kalo di pikir-pikir seneng juga dapet perhatian dari Rio- batin Mita cengar-cengir.
 
“Kok nyengir sendiri sih,terpesona sama aku ya?” goda Rio merangkul Mita.
“Apa sih,ternyata bisa genit juga ya,” ledek Mita sedikit salting. Rio pun merangkul Mita dan menaruh kepalanya di pundak Mita.
“I LOVE U Mit,” ungkap Rio mengecup pipi Mita. Hati Mita bergetar hebat.
“I LOVE U too Rio,” balas Mita yang juga mengecup pipi Rio. Malam itu menjadi malam teromantis bagi mereka berdua.
 
     Keesokan harinya.
 
“Sayang,bangun yuk udah jam 4 pagi. Kita sholat shubuh berjamaah yuk,” bujuk Rio dengan sabarnya. Ya memang,kini Rio lah yang bertanggung jawab sepenuhnya atas Mita termasuk yang membiayai hidup Mita. Karna sejak 2 tahun yang lalu,Mita hidup sebatang kara.
 
“Bentar sayang,2 jam lagi ya?” rengek Mita dibalik selimutnya.
“Kalau 2 jam lagi keburu pagi dong,ga baik kalau menunda-nunda hal yang baik,” Rio masih saja bersabar.
“Iya deh,” ucap Mita akhirnya menurut.
 
Di halaman belakang Vila.
 
“Hai Mit,” sapa Ikmal mengejutkan Mita.
“Hoby banget loe ngagetin gue,” protes Mita.
“Gue cinta sama loe,” tanpa basa-basi Ikmal mengungkapkannya.
“A...pa??” Mita tidak pernah menduga sebelumnya.
“Iya,loe mau kan jadi cewek gue?” tegas Ikmal.
“Loe udah engga waras ya? Gue ini punya Rio,loe lupa ya kalo gue udah tunangan sama Rio?” Mita menggelengkan kepalanya.
“Gue tau Mit,gue rela kok loe dua'in. Selama ini gue liat loe ga pernah sedikitpun bahagia disamping Rio,” Ikmal menarik kesimpulan.
“Udah Mal! Loe pikir,gue ini cewek apa'an? Lagian tau apa sih loe tentang hidup gue?” Mita mulai emosi.
 
“Gue tau,loe sebenernya juga cinta kan sama gue?” Ikmal terus mendesak Mita.
Mita hanya terdiam membisu entah mulutnya sangat sulit untuk merangkai kata-kata.
Ikmal memeluk erat Mita dan sepertinya Mita tidak bisa menolak pelukan erat Ikmal hingga akhirnya Mita membalas pelukan itu.
 
Tanpa mereka berdua sadari,Rio berdiri di ambang pintu dan mendengarkan semuanya termasuk melihat Ikmal dan Mita berpelukan mesra. Betapa sakitnya hati Rio melihat kenyataan itu. Penilaian Rio kepada Mita selama ini ternyata salah besar. Rio pikir selama ini Mita sudah bisa mencintainya dengan tulus,namun kenyataan berkata lain.
 
Hari itu,Rio seharian mengurung diri di kamar. Kebiasaan yang selalu Rio lakukan setiap ada masalah.
Mita pun merasa aneh dengan Rio,Mita tau kalau Rio pasti sedang ada masalah.
 
     Malam harinya.
 
“Ketuk ga yah? Tapi kalo ga diketuk.....aduh,ketuk aja deh,” Mita penuh dengan keraguan.
 
“Makan malam yuk Yo,dari tadi siang kamu kan belum makan,” bujuk Mita penuh perhatian.
Namun tak ada respon sedikitpun dari Rio.
 
“Aku bawa'in makanannya ke kamar yah?” bujuk Mita lagi.
Tapi tetap saja tak ada respon apa-apa.
“Kamu marah ya sama aku?” ucap Mita pelan hampir putus asa.
“Apa kamu lagi ada masalah? share dong sama aku,aku ini tunangan kamu,” Mita hampir menitikkan air matanya dengan sikap Rio.
“Aku ga butuh kamu Mit,mending kamu makan sama Ikmal aja,” ucap Rio akhirnya dengan nada ketus.
“Aku ga ngerti kenapa kamu berubah seperti ini,semalem kamu tuh ga sedingin ini sama aku. Tolong jelasin ke aku Yo,” pinta Mita dengan air mata membasahi pipi.
“Ga ada yang perlu dijelasin Mit,karna kamu juga udah tau semuanya,” jawab Rio dengan dinginnya.
“Oke,kalau itu mau kamu. Aku engga akan ganggu kamu lagi. Tapi ada satu hal yang perlu kamu tau, Aku cinta kamu Rio,” ucap Mita dengan tulus. Kali ini hati Mita yang berbicara. Tanpa Mita sadari sedikit demi sedikit cinta itu tumbuh di hati Mita,tentunya cinta itu hanya untuk Rio.
 
-Maafin aku Mit,aku harus mengambil keputusan ini demi kebaikan kita berdua dan tentunya semua ini demi kebahagiaan kamu Mit. Aku engga mau egois dengan mengorbankan kebahagiaan kamu hanya demi kebahagiaanku - renung Rio malam itu.
 
          Keesokan harinya
 
“Pagi Mit,” sapa Ikmal yang sedang duduk di meja makan.
 
“Sarapan bareng yuk,” lanjut Ikmal mengunyah roti tawarnya.
Tapi Mita tak mempedulikan Ikmal. Kedua matanya hanya terfokus memandangi pintu kamar Rio.
“Mal,Rio belum keluar kamar yah?” tanya Mita sedikit khawatir.
 
“Hloh,Rio baru aja keluar tuh tapi bawa koper besar. Gue tanya mau kemana tapi malah diem aja terus nyelonong pergi gitu aja,” jelas Ikmal.
“Apa !! Jangan-jangan........” tanpa pikir panjang Mita langsung berlari menuju halaman depan karna terdengar suara mesin mobil.
 
“Rio....!!” teriak Mita.
 
“Buka pintunya Yo ! Buka !!” pinta Mita mencoba menggedor-gedor kaca pintu mobil Rio.
Rio tak mempedulikan Mita.
 
“Rio,tolong jangan gini'in aku! Kamu turun ,kamu jelasin ke aku apa alasan kamu mau pergi ninggalin aku!” Mita menahan kepergian Rio.
Akhirnya Rio pun luluh,membuka pelan pintu mobilnya dan langsung memeluk Mita dengan erat.
 
“Maafin aku sayang,mungkin ini sudah menjadi takdir kita berdua. Aku harus pergi sayang,ini semua aku lakuin demi kebahagian kamu. Aku engga mau jadi penghalang antara kamu dan Ikmal,” terang Rio panjang lebar.
“Aku ga bisa hidup tanpa kamu,aku udah terlalu bergantung sama kamu Yo. Yang aku cinta cuma kamu bukan Ikmal,” titik demi titik air mata mulai bergulir dipipi Mita. Mita memang perempuan yang tegar namun di sisi lain,Mita membutuhkan figur seorang lelaki yang bisa menjadi imamnya sekaligus melindunginya.
 
“Tapi Mit,aku engga bisa seperti dulu lagi. Aku sadar selama ini aku terlalu protektif sama kamu,” ungkap Rio mengelus-elus punggung Mita.
“Aku salah sama kamu,betapa bodohnya aku selama ini udah menyia-nyiakan cinta dan perhatian yang begitu tulus yang kamu berikan kepadaku. Aku lemah tanpa kamu Yo. Tolong kasih aku kesempatan untuk menempati ruang di hati kamu lagi.Ijinkan aku untuk memiliki cinta kamu Yo,”pinta Mita yang semakin mempererat pelukannya tak ingin Rio lepas dari pelukannya lagi.
 
“Aku percaya sama kamu Mit,dan ijinkan aku untuk memiliki kamu seumur hidupku,”pinta Rio dengan nada serius.
“Maksud kamu?”Mita melepaskan pelukannya.
“Aku mau kamu jadi istri aku Mit,”Rio menggenggam erat tangan Mita.
“A..ku……,”jawab Mita dengan terbata-terbata.
 
Tiba-tiba……………
 
“Braakkkk…..”rasanya tubuhku terpental dengan keras,sampe mau copot nih badan. Tak ku sangka,ternyata aku jatuh ke lantai dari tempat tidurku yang membuat semua mimpiku terhenti.
“Ah….ternyata cuma mimpi ditengah siang bolong,”ujarku melihat jam dinding yang tepat menunjukkan  pukul 15.00 WIB.
“Kenapa sayang?”tanya Rio tergesa-gesa membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Aku pun bergegas berdiri dari lantai dan langsung memeluk Rio yang masih berdiri di ambang pintu.
“Kamu kenapa Mit?”tanya Rio dengan lembutnya.
“Aku engga mau kamu pergi ninggalin aku,”jelasku terisak di pundak Rio.
“Engga pernah sedikitpun terlintas di pikiranku untuk pergi dari kamu,”jelas Rio yang membuatku sedikit tenang.
“Seberapa penting aku di hidup kamu?”tanyaku penuh selidik.
“Tak terhingga,”jawab Rio pasti,yang membuatku semakin tenang.
 
-Ya,seharusnya aku tidak perlu meragukan cinta Rio lagi. Dan…..Ikmal,hanyalah akan menjadi secuil kenanganku di masa lalu. Setidaknya,Ikmal lah yang mengajariku tentang arti sebuah cinta namun itu semua tidak cukup untuk membuatku bersamanya karna kini aku telah memutuskan untuk melabuhkan cintaku di hati Rio. Karna menurutku Rio adalah orang yang tepat untukku. Dan inilah keputusanku……..sedikitpun aku tak akan pernah menyakiti hati Rio lagi. Karna cinta Rio terlalu berharga untuk aku sia-siakan- batinku di balik dekapan hangat Rio.
 

                                                                      Tamat

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

coment-coment Vty, Mrz, Dlz